Sexual Self-Concept pada Remaja: Kajian Deskriptif di Wilayah Resiko Tinggi Penularan PMS
Abstract
Latar Belakang: Masa remaja adalah fase perkembangan yang ditandai oleh perubahan fisik, psikologis, dan sosial, termasuk eksplorasi identitas seksual. Salah satu faktor yang memengaruhi perilaku seksual remaja adalah sexual self-concept, yaitu persepsi individu terhadap dirinya sebagai makhluk seksual. sexual self-concept yang positif dapat membantu remaja membentuk identitas seksual yang sehat dan menghindari perilaku seksual berisiko. Tujuan penelitian: Mengetahui gambaran sexual self-concept pada remaja di salah satu wilayah yang beresiko tinggi penularan penyakit seksual menular. Metode penelitian: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Sampel berjumlah 150 siswa kelas XI dari total 238 siswa, diambil dengan teknik proportional random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Multidimensional Sexual Self-Concept Questionnaire (MSSCQ) dan dianalisis secara univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian: Sebagian besar responden berusia 15–18 tahun dengan rata-rata usia 16,8 tahun, mayoritas laki-laki (52,7%), dan tinggal bersama orang tua (97,3%). Sebanyak 52,7% responden pernah terpapar pornografi. Hasil menunjukkan hampir seimbang antara remaja dengan sexual self-concept positif (50,7%) dan negatif (49,3%). Kesimpulan: Remaja menunjukkan kecenderungan memiliki sexual self-concept yang positif. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan pendidikan seksual komprehensif dan dukungan keluarga untuk membantu remaja membangun sexual self-concept yang lebih sehat. Paparan pornografi yang cukup tinggi juga menunjukkan pentingnya literasi digital sebagai upaya pencegahan dan penguatan perilaku seksual yang bertanggung jawab.







