DETERMINASI FAKTOR BABY BLUES SYNDROME PADA IBU NIFAS DI KABUPATEN BANTUL 2025
Abstract
Perubahan psikologis pada ibu nifas perlu perhatian khusus tenaga kesehatan. Minimnya perhatian pasca persalinan sering memicu baby blues syndrome, terutama pada ibu yang belum mampu beradaptasi dengan peran baru. Rendahnya data prevalensi membuat kasus ini kurang dianggap penting, padahal di lapangan kejadiannya nyata namun jarang terdeteksi karena skrining awal yang terbatas. Dukungan keluarga, khususnya suami, berperan besar dalam menurunkan risiko, termasuk dukungan finansial. Tujuan penelitian untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan kejadian baby blues syndrome di Kabupaten Bantul. Metode penelitian observasional dengan desain deskriptif korelatif dan pendekatan cross sectional diambil untuk penelitian ini. Populasi adalah ibu nifas dengan baby blues syndrome. Sampel 35 responden diambil menggunakan cluster sampling. Analisis data menggunakan uji regresi logistik. Hasil prevalensi baby blues syndrome sebesar 22,8%. Terdapat hubungan signifikan antara dukungan suami menurut istri (p=0,014), dukungan suami menurut suami (p=0,042), pengetahuan (p=0,000), dan tingkat ekonomi (p=0,000) dengan kejadian baby blues syndrome. Faktor paling dominan adalah tingkat ekonomi (p=0,004). Simpulan adalah dukungan suami, pengetahuan, dan kondisi ekonomi berhubungan dengan kejadian baby blues syndrome. Variabel paling kuat adalah tingkat ekonomi.





